Sunday, November 28, 2010

KISAH TAMAN SARI

Keindahan Taman Sari Keraton Yogyakarta


Pada awal pagi hari keempat berada di kota bersejarah Yogyakarta, Sri Ratu Saadong Vii ditemani oleh beberapa orang krew kebudayaan dari Yogyakarta menelusuri jalanan pusat kota untuk melihat kewujudan Taman Sari yang pernah diperkatakan di dalam sejarah Jawa Tengah . Dengan hujan renyai serta berpayung , rombongan dibawa makan tengahari di Restoran Dapur Samabal yang menyajikan beraneka jenis sambal seperti sambal belacan , sambal bilis , sambal tomato dan banyak lagi membuatkan semua kekenyangan dan berpuas hati dibawa ke situ kerana di restoran ini kita boleh mendapatkan makanan dan menu yang murah dan berpatutan . Sesudah itu mereka dibawa melewati kompleks keraton, dan seterusnya berpergian ke Taman Sari. Terdapat taman yang digelar oleh masyarakat turun temurun taman kekuasaan dan cinta yang mana ini tempat raja memilih selir, menyaksikan tarian dan memandang daerah kekuasaannya dari puncak Pulau Kenanga. Menurut Putri Anis beliau cintakan sejarah bukan kerana tempat yang didirikan itu cantik atau sebagainya tetapi melalui perjalanan sejarah beliau dapat mengembalikan keinsafan dan kebaikan di balik ketamadunan yang pernah wujud di dunia ini .Taman Sari sepertinya akan membangkitkan bermacam-macam perasaan. Mungkin anda yang berkunjung akan kagum, heran, hormat, gemas, atau entah apa lagi yang bakal muncul.Perjalanan dilanjutkan menuju panggung gapura, yang mana di bawahnya terhampar empat bangunan plus pelataran yang menurut Putri Anis menjadi tempat persembahan tari. Biasanya setelah mandi bersama selir, sultan menonton tarian dari atas gapura . Empat bangunan itu disebut gedung sekawan, tempat gamelan dimainkan.Tidak ketinggalan juga Putri Anis dibawa menziarahi Gapura Agung dan pemandian selir yang hanya sebahagian dari sekian banyak jejak yang menggambarkan bagaimana kekuasaan dan kisah cinta Raja Yogyakarta di masa itu. Azan Asar sempat berkumandang di cuping telinga para pengunjung .Di tengah lingkaran terdapat kolam tempat untuk mengambil air wudhu. Kemudian, mereka serombongan telah ke satu tempat yang tertutup bata telanjang. Ini jelas yang diterima daripada hasil kajian sejarawan yang mana ianya merupakan lorong yang kononnya boleh menembus pemandian Taman sari dan bahagian dalam keraton. Tapi ada juga yang mengatakan, lorong-lorong di situ boleh langsung membawa ke pantai selatan, saat Sri Sultan bertemu dengan Nyi Roro Kidul.Apa yang menggembirakan mereka adalah dibawa ke Pulau Kenanga . Disebut demikian karena bangunan ini yang sebahagian besar sudah runtuh , sebelumnya dikelilingi air. Secara keseluruhan, dulunya lokasi ini disebut Istana Air. Sisi lain Putri Anis diberitahu ianya juga pada saat tertentu menjadi tempat para abdi dalam yang membuat batik untuk keraton. Saat masih berfungsi, biasanya Sri Sultan berperahu menuju Pulau Kenanga, menyaksikan Yogyakarta dari ketinggian. Akhir sekali diharapkan Taman Sari ini kekal menjadi objek pelancongan yang senantiasa dikunjungi oleh setiap pelancong dari pelusuk dunia .


Sekilas pemandangan di pagi hari 
'' For i am like water
Following the path of least resistance
Through stagnant pools and rapids' rage
Like water
I will always find my way
To the sea ''

(a poem from Princess Anis)


Restoran Dapur Sambal
Salah satu sensasi makan sambal adalah rasa pedasnya. Orang sering berupaya menghilangkan rasa pedas dengan meminum air dingin, padahal cara tersebut kurang efektif.
Untuk mengurangi rasa pedas, cubalah rasai susu  sebagai makanan penutup. Khasiat susu akan melarutkan sehingga rasa pedasnya secara beransur-ansur menjadi berkurang. Rasa pedas juga dapat dihilangkan dengan mengunyah sekepal kecil nasi atau sepotong roti tawar hingga terasa manis.Gorengan yang lembab, seperti tempe goreng atau pisang goreng, perlahan-lahan juga dapat mengurangi rasa pedas di mulut. 
Hindari mengambil minuman ringan bersoda (soft drink) di kala kepedasan, apalagi minuman hangat. Langkah tersebut justeru akan makin menambah panas di bibir dan memperhebat rasa pedas.

Restoran yang menghidangkan pelbagai aneka resepi sambal

Sambal sesungguhnya merupakan bahan makanan kaya zat gizi. Cabai rawit yang merupakan komponen utama pembuatan cabai banyak mengandung vitamin C dan provitamin A, mengalahkan buah-buahan popular seperti mangga, nanas, betik, atau tembikai. Bahkan kadar mineralnya, terutama kalsium mengungguli ikan segar.

Hujan membasahi para pengunjung di Taman Sari menandakan perjalanan direstui
Taman Sari bererti taman yang indah. Sekitar 10 minit berjalan kaki dari Istana Sultan barat daya. Dibangun oleh Sultan Hamengku Bowono I tahun 1757. Dibangun dengan menggabungkan gaya Portugis dan Jawa. Taman Sari dahulu kala merupakan taman air yang indah dan mutakhir. Area antara tenggara taman sampai perempatan kota disebut Kampung Segaran yang dahulu kala terisi dengan air. Area ini sekarang dinamakan Suryoputran. Segaran berasal dari bahasa jawa yang berarti laut buatan. Setiap Sultan mengunjungi taman, Beliau kesana dengan mendayung perahu melewati jembatan gantung yang disebut Kreteg Gantung yang terletak didepan gerbang istana, wilayah utara atau selatan Kemandungan.



Keruntuhan dari bangunan yang menyambungkan dengan jembatan gantung masih dapat dilihat sampai sekarang. Disamping transportasi air ada juga jalan keluar bawah tanah atau lorong dari Kraton Yogyakarta menuju salah satu bangunan taman yang dinamakan Pasarean Ledok Sari. Taman sari dahulu selain dijadikan tempat bersantai dan hiburan juga merupakan tetapi juga merupakan sistem pertahanan yang unik. Sementara air tidak hanya untuk memperindah taman tetapi juga sebagai senjata rahsia menghindari bahaya. Ketika musuh menyerang, Sultan dan keluarganya melarikan diri melalui terowongan bawah tanah. Ketika semuanya sudah berada di tempat aman, Gerbang air akan terbuka dan air akan membanjiri musuh hingga tenggelam.


Kolam bersiram para gundik atau selir 
Taman Sari terbahagi menjadi 3 bahagian utama bangunan keramat, kolam pemandian, dan pulau kenanga(pulau cemeti). Bangunan keramat berupa bangunan tersendiri tempat sultan dan keluarga bersemadi. Kolam pemandian terdiri dari dua buah kolam yang dipisahkan bangunan bertingkat dan kelilingi tembok yang tinggi. Pada kolam terdapat pancuran berbentuk naga. Dari pancuran inilah keluarnya air untuk mengisi kolam. Disisi kolam terdapat bangunan menyerupai rumah yang mungkin digunakan sebelum atau setelah bersenang-senang di kolam pemandian.


Air yang memercik 

Pemilihan selir menurut pengawal di sana , dilakukan dengan cara melempar bunga dari atas menara yang memisahkan dua kolah pertama dan kolam peribadi sultan. Selir yang memperoleh bunga berarti mendapat giliran menemani raja. Cara ini dilakukan untuk keadilan dan menghindari kecemburuan. Para selir biasanya diambil dari abdi dalam, untuk mengangkat derajat mereka menjadi bangsawan.


Selir yang terpilih diajak masuk ke pemandian peribadi yang dilengkapi dengan ruang ganti sendiri dan satu ranjang besar yang unik. Di bawah ranjang boleh dibuatkan penghangat dengan menambah bara saat udara dingin. Jika tidak, ianya boleh digunakan untuk mengeluarkan wewangian.


Setelah selesai ritual di pemandian, raja akan berjalan ke Gapura Agung menyaksikan tari-tarian. Kemudian dilanjutkan ke Pulau Kenanga untuk melihat daerah kekuasaannya dari puncak tertinggi.




Salah satu kamar yang terdapat di Taman Sari


Seni ukiran yang tiada tandingan 


Putri Anis dan payungnya sedang berhenti sejenak setelah penat berjalan


Nyi Roro Kidul diilusikan dalam sebuah lukisan mewah karya salah seorang pelukis keraton Jogja

LAGENDA RATU KIDUL MENGIKUT PERSPEKTIF MASYARAKAT INDONESIA

Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut. Maka, bahagialah sang raja.

Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. “Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku”, kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.

Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. “Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.” Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.

Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. “Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri,” kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.

Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan..

Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.

Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda

Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.

Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.

Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda, tapi anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar. Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah pengatar bagi tulisan selanjutnya.

Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta

Percayakah anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata, bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya?

Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.

Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut.

Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.

Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.

Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu.

Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.

Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Anda pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ yang dipakai oleh mantan presiden Soekarno.

Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan.

Terowong dan bangunan tua


Masjid bawah tanah


Putri Anis bersama ahli filosofi


Cerita Tentang Pembangunan Pesanggrahan Taman Sari
Pada versi pertama diceritakan bahwa di Mancingan (suatu daerah di pantai selatan Yogyakarta) terdapat orang aneh yang tidak diketahui asal-usulnya. Masyarakat di daerah tersebut banyak yang menduga bahwa orang tersebut termasuk sebangsa jin atau penghuni hutan. Masyarakat beranggapan demikian karena orang tersebut menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang setempat.
Orang aneh tersebut kemudian dihadapkan kepada Sultan Hamengku Buwana II yang saat itu masih memerintah. Rupanya Sultan Hamengku Buwana II berkenan mengambil orang tersebut sebagai abdi. Setelah beberapa lama orang itu pun dapat berbahasa Jawa. Berdasarkan keterangannya ia mengaku sebagai orang Portugis yang dalam dialek Jawa sering disebut Portegis. Orang Portegis itu kemudian dijadikan sebagai abdi yang mengepalai pembuatan bangunan (semacam arsitek).
Sultan Hamengku Buwana II pun memerintahkan orang tersebut agar membuat benteng. Rupanya Sultan Hamengku Buwana II amat berkenan atas hasil kerjanya. Orang tersebut kemudian diberi kedudukan sebagai demang, maka orang itu pun terkenal dengan nama Demang Portegis atau Demang Tegis.

Demang Tegis inilah yang konon diperintahkan untuk membangun Pesanggrahan Taman Sari. Oleh karena itu pula bangunan Pesanggrahan Taman Sari menunjukkan unsur seni bangunan yang berasal dari Eropa (Portugis).
Menurut versi kedua diceritakan bahwa pada suatu ketika bupati Madiun yang waktu itu bernama raden Rangga Prawirasentika, yang telah banyak berjasa kepada Sultan Hamengku Buwana I memohon kepada beliau supaya dibebaskan dari kewajiban membayar pajak daerah yang selama ini dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun.
Bupati Madiun hanya menyanggupi bila ada permintaan-permintaan khusus Sultan Hemngku Buwana I untuk kelengkapan hiasan dan kemegahan keraton. Sultan Hamengku Buwana I pun mengabulkan permohonan itu.

Oleh Sultan Hamengku Buwana I Bupati Madiun diperintah untuk membuat gamelan Sekaten sebagai pelengkap dari gamelan Sekaten yang berasal dari Surakarta. Semula gamelan tersebut berjumlah satu pasang, tetapi oleh karena palihan nagari(1755) gamelan itu dibagi dua. Satu untuk Kasultanan Yogyakarta dan satu lagi untuk Kasunanan Surakarta.

Di samping itu, Sultan Hamengku Buwana I juga memerintahkan kepada Bupati Madiun untuk dibuatkan jempana 'tandu' sebagai kendaraan mempelai putri Sultan Hamengku Buwana I.

Pada tahun 1684 Raden Rangga Prawirasentika diperintahkan untuk membuat batu bata dan kelengakapannya sebagai persiapan untuk membangun pertamanan yang indahsebagai sarana untuk menenteramkan hati Sultan Hamengku Buwana I. Sultan menghendaki hal demikian karena baru saja menyelesaikan tugas berat (perang) yang berlangsung cukup lama. Keluarnya perintah Sultan Hamengku Buwana ditandai dengan sengkalan memet yang berbunyi Catur Naga Rasa Tunggal (1684).

Untuk pembuatan pertamanan/pesanggrahan itu atas perkenan Sultan Hemngku Buwana I dikepalai oleh Raden tumenggung Mangundipura dan dipimpin oleh K.P.H. Natakusuma, yang kemudian hari menjadi K.G.P.A.A. Paku Alam I (putra Sri Sultan dengan isteri selir yang bernama Bendara Raden Ayu Srenggara).

Pembuatan tempat peraduan dan bangunan urung-urung 'gorong-gorong' yang menuju keraton yang sering juga disebut Gua Siluman dilakukan pada tahun 1687 dan ditandai dengan candra sengkala Pujining Brahmana Ngobahake Pajungutan(1687). Sedangkan pembangunan pintu-pintu gerbang dan tembok selesai pada tahun 1691.

Selesainya pembuatan bangungan Pesanggrahan Taman Sari diberi tanda sengkalan memet yang berupa relief pepohonan yang berbunga dan sedang dihisap madunya oleh burung-burung. Sengkalan memet tersebut berbunyi Lajering Kembang Sinesep Peksi (1691).
Dalam versi kedua ini diceritakan bahwa Raden Rangga Prawirasentika tidak dapat menyelesaikan pembuatan bangunan Pesanggrahan taman Sari. Beliau menyatakan bahwa pembangunan tersebut justru dirasa lebih besar biayanya dibandingkan dengan penyampaian pajak setahun dua kali yang selama ini dilakukannya. Oleh karenaya belilau mohon berhenti pada Sultan dan diperkenankan. Sultan kemudian memerintahkan K.P.H. Natakusuma untuk menyelsaikan bangunan itu atas biaya yang ditanggung Sultan sendiri.

Pembangunan Pesanggrahan Taman Sari ini kono banyak melibatkan tenaga kerja tidak saja yang berasal dari sekitar Yogyakarta, tetapi juga dari Madiun, Kedu, Jipang, dan sebagainya.



 Masjid ini berbentuk lingkaran di tengah-tengahnya terdapat sumur bernama sumur Gumilang.

The Underground Mosque, also known as Sumur Gumuling", in the Taman Sari Complex of Yogyakarta was built upon a well and has, therefore, several unique architectural characteristics. Thu building is totally underground, surrounding the former well (sumur). There are four stairways above the well that direct to the center, forming a small stage. and another top stair leads to the second floor. These five stairways symbolize the Five Islamic Principles, the highest staircase referring to the compulsory pilgrimage to Mecca for all Muslims who can afford it. The Imam or leader of the prayer used to stand on the small stage formed by the set of stairways, taking advantage of the excellent acoustics of the building due to its circular shape.



No comments:

Post a Comment